Google+ Followers

Selasa, 25 Juni 2013

LELAKI GILA, ALKITAB DAN LADY GAGA

ini adalah salah satu karya dosen  saya yang hebat, yang tentunya dapat menginspirasi banyak orang yaitu bapak  DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd

tulisan ini adalah salah satu tulisannya yang hebat..
silahkan dibaca dan di renungkan. :)



LELAKI GILA, ALKITAB DAN LADY GAGA
 
Lelaki ini ganteng, sorot mata tajam dan selalu melihat kejauhan, menatap langit dalam rentang panjang dan terus berkomat-kamit. Di tangan kirinya ada Alkitab dan di tangan kanan sebuah pensil. Terkadang, ia baca ayat-ayat dari Alkitab itu dengan suara yang mantap, intonasi yang terukur, dan bacaan yang akurat, tetapi lebih sering ia membaca tanpa suara dan manggut-manggut.

Suatu kali, di pagi yang sangat cerah, aku pernah mendengar ucapannya yang jelas dan mantab, ” Jesus datang ke dunia dengan cinta, dan disalib karena cinta. Cinta Tuhan tak terbatas, melebihi langit dan samudra. Tuhan adalah cinta”. Ini yang menyebabkan aku pada mulanya tak percaya saat orang-orang menyebut lelaki itu gila. Tadinya kukira ia hanya kurang mengurusi dirinya, sehingga tampak agak lusuh dan sedikit bau asem.

Duduk dan tidur di kaki lima pertokoan, lelaki ini terus membaca Alkitab dan membuat catatan di buku tulis yang lusuh. Tulisannya rapi dan indah. Entah apa yang dituliskannya. Membaca satu dua ayat, kemudian dia menulis, membalik-balik halaman, membaca beberapa ayat lagi, dan kembali menulis. Terkadang tampak ia terdiam setelah membaca sejumlah ayat. Matanya melihat kejauhan, entah apa yang dilihatnya, biasanya dalam waktu lama, bahkan sangat lama. Mungkin ia melihat fikirannya sendiri yang melayang-layang dalam angan tak terbatas.
Ia tak pernah berbincang dengan siapa pun. Mungkin ia merasa tidak perlu berbicara dengan sesama manusia. Setiap hari ia sibuk berbincang dengan dirinya sendiri, dan dengan Tuhan. Mungkin ia sungguh merasa ia sedang bermuka-muka dengan Tuhan. Oleh sebab itu ia dicap gila.
Ada kalanya ia menangis sambil membaca ayat-ayat tertentu, kemudian berdoa dengan suara yang gemetar. Dalam doanya, ia minta Tuhan jangan meninggalkannya, ia sangat takut pada iblis yang bersemayam dalam dirinya. Sepotong doanya yang pernah kudengar adalah, ” Bapa, bakar iblis dalam hatiku.” Aku sungguh terpana, tak terasa aku menitikkan air mata. Betapa tidak, lelaki ini gila, tapi doanya sangat luar biasa. Dalam kegilaannya, ia menyadari ada iblis dalam hatinya, dan ia minta Tuhan membakarnya.

Sungguh, aku tidak mengerti. Apakah ungkapan yang dahsyat dan mendalam itu merupakan sisa kewarasan atau justru esensi kegilaannya. Manusia sejati sepenuhnya menyadari bahwa iblis bisa dan biasa menggelincirkannya. Bukankah Adam, manusia yang pernah berbincang dengan Tuhan digelincirkan oleh iblis? Sejatinya, manusia butuh Tuhan untuk melawan iblis, karena manusia sering kalah melawan iblis. Lelaki gila ini menyadari keberadaan iblis dalam hatinya. Ya Tuhan, ini sangat luar biasa. Sebab banyak orang yang merasa dirinya waras, jarang menyadari fakta ini, bahwa ada iblis bersemayam di dalam hati. Dan yang sungguh ‘gila’, lelaki gila ini memohon Tuhan menolongnya. Doa yang diucapkan lelaki gila ini menegaskan dua hal sekaligus yaitu keterbatasan manusia, dan ketergantungan manusia pada Tuhan. Puji Tuhan, ungkapan ini muncrat dari mulut lelaki gila.

Pada batas ini, menjadi sulit membuat demarkasi atau garis batas antara kegilaan dan kewarasan. Bukanlah keanehan dalam situasi ini ditemukan fenomena kegilaan yang waras dan kewarasan yang gila. Ada kewarasan dalam kegilaan, dan ada kegilaan dalam kewarasan. Seringkali kita saksikan orang yang masuk dalam kategori waras, melakukan kegilaan. Seorang pejabat yang menilep dana bantuan sosial atau dana pencetakan kitab suci, bukankah bentuk kegilaan yang keterlaluan yang dilakukan oleh orang yang dinyatakan waras?
Kegilaan memang bisa bermakna anomali, saat manusia melanggar norma-norma dan kebiasaan-kebiasaan yang normal dan umum. Tetapi gila juga bisa bermakna kontroversi yaitu sulit difahami dan mengandung banyak pertentangan. Dalam konteks ini, rasanya pas banget untuk membincangkan Lady Gaga, ibu para monster.

Lady Gaga yang bernama asli Stefani Joanne Angelina Germatotta adalah kontroversi, sejumlah orang menyebutnya gila. Bagi Lady Gaga bernyanyi bukanlah sekedar hiburan, tetapi merupakan pengejawantahan visi yang bersifat ideologis. Ada pesan, pendirian, sikap dan perlawanan didalamnya. Karena itu ia tidak peduli apapun pendapat orang tentang dirinya.
Lady Gaga dinyatakan sebagai anti Kristus dan juru bicara utama gerakan iluminatif. Lagu, gaya, cara berpakaian, video klip, dan seluruh tampilannya di atas dan di luar panggung seakan menegaskan itu. Lihatlah baju yang dia kenakan ketika manggung dan dalam sejumlah video klip. Ia sangat suka menggunakan baju yang berhiaskan salib terbalik, dan tanda salib selalu berada tepat di kemaluannya. Salib terbalik adalah lambang anti Kristus dan pengikut iblis.
Semangat anti Kristus itu sangat kental terlihat dalam lagunya yang berjudul Judas. Lady Gaga melihat dirinya seperti Maria Magdalena yang selalu membersihkan kaki Yesus dengan rambutnya. Lady Gaga mau tunjukkan ia percaya dan bersedia menjadi pelayan Yesus sebagaimana halnya Maria Magdalena. Tetapi bersamaan dengan itu Lady Gaga sangat mencintai Judas. Situasi ini sungguh sangat menarik. Yesus adalah lambang kesucian, kebenaran, spiritualitas. Yesus adalah raja yang menaklukkan hati manusia dengan cinta. Yesus mengorbankan dirinya untuk membebaskan manusia dari dosa dan iblis. Sedangkan Judas adalah simbol kejahatan, pengkhianatan, dan duniawi. Judas selalu berfikir tentang kerajaan dunia, kekuasaan dan penaklukan sebagaimana raja-raja sebelumnya. Judas tampaknya tidak puas jika Yesus hanya menjadi raja tanpa mahkota, raja bagi hati manusia. Barangkali itulah akar pengkhianatannya. Judas memang berparadigma penguasa dunia yang seringkali mati rasa.
Lady Gaga memilih posisi yang kontroversial, mengagumi dan percaya pada Yesus sekaligus mencintai Judas. Sebenarnya, Lady Gaga bukan sedang berbicara tentang dirinya saja. Ia mau bilang inilah kenyataan banyak manusia dalam semua agama. Bukankah tidak sedikit dari kita yang secara verbal mengaku beriman dan rajin melaksanakan ritual keagamaan, tetapi paradigma berfikir dan perilaku kesehariannya bertentangan dengan esensi iman yang sesungguhnya? Ada orang yang hafal Al Quran, Profesor Doktor ilmu agama lulusan tanah suci, tetapi menjadi narapidana kasus korupsi. Ada pula yang berpendidikan pesantren sejak kecil, melanjutkan studi ke tanah suci, menjadi presiden partai berlandaskan agama, sekarang jadi tersangka kasus korupsi, masih ditambah lagi dugaan kejahatan kelamin. Ini hanyalah contoh kecil apa yang ditunjukkan si Lady Gaga yang sering disebut gila itu.
Lelaki gila dan Lady Gaga menggugah kesadaran kita bahwa,
TIDAK PERNAH MUDAH MENJADI MANUSIA, APALAGI MANUSIA BERIMAN,
 sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar